CHECKOUT

FREE SHIPPING FOR PURCHASES ABOVE RM78

SABAR DAN SOLAT KETIKA TERIMA UJIAN

Banyak di antara kita yang merasakan kehidupannya tidak seindah seperti yang diimpikan. Ada yang merasa mirip hidup dalam hutan batu yang serba bingit. Sebab, banyak pihak lebih fasih jika berbicara dengan bahasa kekerasan. Banyak pihak ‘bersaing tanpa nurani’ dalam bidang ekonomi. Banyak pula yang lebih menghalalkan segala cara’ ketika berpolitik. Sementara, di peringkat dunia, banyak negara yang lebih suka menggunakan muncung senjata sebagai ‘alat komunikasi’.

 
Pendek kata, kita kerap merasa terasing di tengah-tengah keramaian, sehingga banyak yang mengalami stres. Islam memberi jalan keluar! Sejarah hidup Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Muhammad s.a.w membuktikan, bahawa syariat Allah mengatasi masalah. Nabi Ibrahim tegar meniti hidup. Dia ‘berseberangan’ agama dengan ayahnya. Dia berlawanan dengan Namrud, sang raja yang zalim. Sementara, dalam keluarganya sendiri, tidak kurang rumit masalahnya. Ismail, putera yang lama ditunggu kehadirannya harus dikorbankan.
 
Perhatikanlah, sejarah hidup Nabi Muhammad s.a.w. Baginda mampu membawa kaum musyrik, yang mengamalkan sistem ekonomi riba, dan bergelumang kekerasan itu keluar dari zaman gelap menuju peradaban yang mulia. Adakah petunjuk, agar kita dapat menjadi setegar Nabi Ibrahim? Adakah pedoman, supaya kita setabah Nabi Muhammad? Maka, marilah kita buka al-Quran. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS Al-Baqarah [2]: 2).
 
 
SESUAI KEMAMPUAN
 
Sesiapa pun, akan diuji oleh Allah. Tujuannya, agar dinilai secara ‘alami’, siapa yang teguh imannya dan siapa yang ‘seolah-olah beriman’. “Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta.” (QS Al-Ankabut [29]: 2-3). Dalam konteks ujian, maka janganlah sekali-kali kita berburuk sangka kepada Allah SWT. Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
 
Sehubungan dengan itu, fahamilah kemungkinan perbezaan perspektif kita dengan Allah dalam memandang sesuatu persoalan. Boleh jadi, kita menganggap sesuatu itu baik untuk kita, padahal sebenarnya tidak baik di depan Allah atau, sebaliknya. “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 16).
 
Sekali lagi, selalulah berbaik sangka terhadap Allah. Lebih-lebih lagi, ketika Allah menguji kita. Ujian yang diturunkan Allah itu tidak akan melampaui kemampuan yang dimiliki setiap orang. Setiap bentuk ujian itu sudah terukur, disesuaikan kemampuan seseorang. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah [2]: 286). Oleh sebab itu, jika kita reda dengan (semua bentuk) ujian Allah, maka dalam posisi apa pun kita akan tetap dapat
mengatasinya.
 
Dalam Islam, kita menjadi manusia yang terimbang. Jika sedang mendapat ujian berupa kenikmatan, kita bersyukur. Dan, jika sedang diuji dengan musibah (sesuatu yang tidak kita inginkan), kita bersabar. Janganlah kita tergolong sebagai orang yang disindir Allah: “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia nescaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan nescaya dia berputus-asa.” (QS Al-Israa’ [17]: 83). Jika hidup kita sudah berimbang antara bersyukur dan bersabar, maka tidak patut kita memperlihatkan diri sebagaimana orang yang tidak punya pengharapan.
 
 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali-‘Imran [3]: 139). Jika atas izin Allah, kita dapat hidup berimbang dengan syukur-sabar itu, maka hendaklah kita tetap pertahankan sikap terpuji itu. Pertama, jangan sampai kita menjadi manusia yang tidak pandai berterima kasih ketika mendapat nikmat. Kedua, janganlah menjadi manusia yang mudah putus asa jika sedang mendapat musibah.
 
 
 
KEMBALI KEPADA ALLAH
 
Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolong kita dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, serta tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali-‘Imran [3]: 200). Dengan menjadikan sabar dan solat sebagai kunci pemecah permasalahan hidup, maka –pada saat yang samaitu sesungguhnya sebuah deklarasi terbuka kepada semua penduduk bumi, bahawa kita bersaksi: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali ‘Imran [3]: 173). “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia.
 
Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS At-Taubah [9]: 129). “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS Al- Anfaal [8]: 40). Intinya, jika kita sedang menghadapi ujian (sebenarnya, ujian itu ada di sepanjang usia kita) kembalikanlah semua urusan kepada Allah. “Dan, sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS Al-Baqarah [2]:155-156. – MIDI
Shopping Cart